Review

Wednesday, September 14, 2016

Don't Breathe, Film yang Betul-betul Membuat Anda Menahan Nafas!


"Diam itu emas". Peribahasa tersebut bukanlah satu-satunya pelajaran yang dapat diambil oleh karakter penting kita dalam film ini. Pelajaran yang lain ialah : (1) janganlah melakukan pencurian;(2) jangan sampai senang mencampuri urusan orang lain (khususnya urusan di basement); dan(3) janganlah bermain sama orang sepuh(lebih-lebih apabila sang orangtua merupakan veteran perang yang buta). Wawasan umum, tetapi mereka mempelajarinya lewat trik yang keras. Oh, tetapi tunggu lalu. Akankah mereka miliki peluang menerapkannya kelak, sebab selamat saja belum pasti?

Kita tidak demikian mampu menebaknya & ini yakni salah satu daya tarik Don't Breath, review film thriller "kebalikan home invasion" yang teramat intens & dibuat bersama teramat baik. Kita tidak tahu mesti memihak siapa (setidaknya sampai klimaks film), lantaran baik pihak yang diburu atau pemburu sama-sama punyai motif yang kuat. Ceritanya menyangkut perbuatan pencurian oleh kriminil kelas teri yang tidak berlangsung mulus. Ketika pihak yang dicuri nyata-nyatanya tidak mampu dibilang sebagai korban, siapa yang kamu bela?

Bukan bermaksud bilang bahwa film ini lebih ke eksplorasi karakter. Faktanya, produsen filmnya bahkan tidak buang-buang disaat untuk membangun set-up. Karakterisasinya yaitu standar film horor-thriller & tidak perlu durasi lama sampai kita ditempatkan terhadap pusat teror yang sebahagian besar nya cuma berada di satu area tertutup. Meskipun begitu, eksposisi dasarnya telah lumayan buat menciptakan kita mendalami motif masing-masing.

Maling amatiran kita terdiri dari Rocky (Jane Levy), perawan yang mau mencari uang demi melarikan diri dengan sang adik dari keluarganya yang abusif; si sayang Rocky yang ialah bandit kelas teri bernama Money (Daniel Zovatto); juga Alex (Dylan Minette) yang terlihat seperti laki laki baik-baik tetapi terlibat dalam bisnis kumuh ini gara-gara berharap balasan cinta dari Rocky. Mereka tidak demikian amatiran sih, lantaran Alex miliki kunci & kode keamanan yang diambilnya dari sang ayah yang bekerja di perusahaan keamanan.

Money mendapat berita bahwa satu orang tua(Stephen Lang) yang tinggal di daerah terpencil punyai simpanan duit beberapa ratus ribu dollar. Pak lanjut usia ini tinggal sendirian sejak anaknya wafat sebab kecelakaan sekian banyak tahun dulu. Ruangan rumahnya jauh dari keramaian, dirinya tidak miliki tetangga. Lagipula, dirinya buta. Misi yang enteng bukan? Yang tidak mereka tahu ialah pak lanjut umur ini yaitu veteran perang Irak yang masihlah fit di umur senja, memelihara anjing Rottweiler yang mendapat pelatihan dari kru film Cujo pula miliki indera pendengaran & penciuman yang nyaris setara dengan anjingnya. Jangankan pulang mengambil jarahan, ke luar hidup-hidup saja susah.

Kita boleh menduga film ini dapat jadi festival bunuh-bunuhan yang klise, namun ternyata tak begitu. Fede Alvarez, sutradara yang menghabiskan bergalon-galon darah buatan dalam remake Evil Dead, menahan hasrat gore-nya & dengan piawai menyajikan tontonan yang intens tidak dengan eksploitasi darah yang eksesif. Pasti, masihlah ada sekian banyak adegan yang brutal dengan cara fisik, tetapi Alvarez menggantungkan filmnya terhadap suspens, membangun atmosfer lewat setting yang gelap & klaustrofobik juga tata nada yang mencekam. Kita dapat dibuat khawatir bersama nada pecahan kaca, getaran hp atau lantai yang berderit. Nada sekecil apapun mampu membahayakan nyawa. Adegan paling mendebarkan berjalan di basement ketika tokoh mutlak kita mesti bermain kucing-kucingan dalam keadaan tidak dengan cahaya sama sekali, tidak tahu apa yang berjalan (well, kita tetap sanggup menyaksikan mereka lewat night-vision).

Pilihan yang cerdas dari Alvarez beserta sinematografernya, Pedro Luque buat menggunakan wawasan kita dapat dimensi setting-nya. Semenjak tokoh penting memasuki hunian, camera bergerak bersama dinamis ke bermacam arah, menembus lantai & langit-langit, menyoroti sela kasur atau celah mungil di dapur, maka berikan kita pencitraan mendetail berkaitan geografinya. Ini efektif memberikan ketegangan, sebab kita tahu kemana mereka mesti lari & di mana ada apa.

Mematuhi aturan film horor, terkadang tokohnya diharuskan menciptakan ketentuan bodoh demi perkembangan plot. & aspek ini mampu saya maklumi berkat belokan naskah yang pass tidak terduga. Diwaktu aku pikir seluruhnya telah mogok, film ini menafikannya & karakter kita mesti berjuang kembali. Seluruhnya permainan tensi tadi berganti jadi syok ketika kita disajikan bersama twist yang twisted sekali. Adegan ini demikian provokatif sampai mesti disensor & aku mesti gugling demi mengetahui persis apa yang berlangsung. Menjijikan sekaligus sensasional tetapi memberikan konklusi yang lebih keji daripada yang kita duga.

Don't Breathe tidak mengkhianati judulnya. "Jangan bernapas" ialah pelajaran yang diambil oleh tokoh mutlak kita selama berupaya keras supaya tiap-tiap tindakan & helaan napas mereka tidak terdengar oleh Pak Lanjut Usia Buta yang sensitif. Bagi kita, pelajarannya : tetap ada trick untuk menciptakan film horor-thriller yang mencekam dengan membelokkan formula yang sudah jamak diperlukan. Tidak Dengan butuh disuruh, kita pun menahan napas.

No comments:

Post a Comment